Pengembangan Teknologi Sistem Integrasi Tanaman-Ternak Model Zero Waste

Pengembangan Teknologi Sistem Integrasi

Tanaman-Ternak Model Zero Waste

Ruly Hardianto

BPTP Jawa Timur

PENGANTAR

Sistem Integrasi Tanaman-Ternak (SITT) adalah intensifikasi sistem usahatani melalui pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara terpadu dengan komponen ternak sebagai bagian kegiatan usaha. Tujuan pengembangan SITT adalah untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian untuk mewujudkan suksesnya revitalisasi pembangunan pertanian. Model SITT yang dikembangkan di lokasi Kebun Percobaan Mojosari-Mojokerto berorientasi pada konsep ”zero waste production system” yaitu seluruh limbah dari ternak dan tanaman didaur ulang dan dimanfaatkan kembali ke dalam siklus produksi. Komponen usahatani SITT meliputi usaha ternak sapi potong, tanaman pangan (padi & palawija), hortikultura (sayuran), perkebunan, (tebu) dan perikanan (lele, gurami, nila). Limbah ternak (kotoran sapi) diproses menjadi kompos & pupuk organik granuler serta biogas; limbah pertanian (jerami padi, batang & daun jagung, pucuk tebu, jerami kedelai dan kacang tanah) diproses menjadi pakan. Gas-bio dimanfaatkan untuk keperluan memasak, sedangkan limbah biogas (sludge) yang berupa padatan dimanfaatkan menjadi kompos dan bahan campuran pakan sapi & ikan, dan yang berupa cairan dimanfaatkan menjadi pupuk cair untuk tanaman sayuran dan ikan.

Faktor penting dalam mendukung keberhasilan pengembangan SITT antara lain tersedianya inovasi teknologi yang bersifat tepat guna, kualitas sumber daya manusia dan penguatan kelembagaan kelompok tani. Lambatnya perkembangan SITT di masyarakat terletak pada kurangnya intensitas sosialisasi, keterbatasan permodalan, keterbatasan fungsi kelembagaan inter dan/atau intra pelaku SITT yang berkaitan dengan aspek teknis, pemasaran dan kebijakan. Sebagai alternatif pemecahan masalah untuk pengembangan SITT antara lain perlu peningkatan sosialisasi, pembinaan kelembagaan tani, penguatan permodalan melalui skim finansial yang sesuai, pembinaan/pendampingan pemasaran hasil, sistem jaringan informasi yang terkoordinasi serta pendampingan teknologi sesuai dengan perkembangan pengetahuan, serta pengembangan sistem kelembagaan agribisnis dari hulu sampai hilir yang melibatkan petani, lembaga modal, lembaga ekonomi yang memberi akses penyaluran dan pemasaran hasil dengan dukungan pemerintah daerah dan pusat. Kegiatan Demo dan Gelar Teknologi ini merupakan salah satu bentuk upaya dalam mengembangkan jejaring informasi dan sarana percepatan alih teknologi SITT kepada para petani/peternak dan pelaku agribisnis.

INOVASI TEKNOLOGI SITT

SITT yang dikembangkan di lokasi Kebun Percobaan Mojosari-Mojokerto adalah tanaman pangan (padi & palawija), tanaman perkebunan (tebu) dengan ternak sapi potong dan pemeliharaan ikan (lele, gurami, nila). Inovasi teknologi untuk mendukung SITT tersebut antara lain meliputi: (1).Teknologi pengolahan limbah pertanian untuk produksi pakan; (2). Teknologi pembuatan pupuk organik dalam bentuk granuler; (3). Teknologi pengolahan kotoran sapi untuk produksi biogas skala rumah tangga; (4). Teknologi pengawetan hijauan (jerami, tebon jagung, pucuk tebu) dalam bentuk silase; dan (5). Teknologi pembuatan jamu ternak dari bahan empon-empon. Petunjuk teknis masing-masing teknologi tersebut dibahas berikut ini.

(1). TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH PERTANIAN UNTUK PEMBUATAN

PAKAN SAPI POTONG SKALA KELOMPOK TANI.

Salah satu permasalahan dalam pengembangan sapi potong di Jawa Timur adalah keterbatasan pakan yang berkualitas dan kontinu. Kawasan utama usaha sapi potong umumnya berada di daerah sentra pertanian, oleh karena itu pemanfaatan limbah pertanian perlu dioptimalkan. Faktor pembatas limbah pertanian adalah kandungan nutrisi dan kecernaan yang rendah. Untuk itu, limbah pertanian perlu diberi perlakuan pra-digesti dan suplementasi. Proses pengolahan limbah pertanian menggunakan dua macam mesin, yaitu mesin chopper modif (sistem cutting & hummer mill, dimensi 125x90x120 cm, volume 132,6 ltr, penggerak 26 HP) dan mixer horizontal (sistem double ulir, dimensi 150x95x207 cm, volume 1.235 ltr, penggerak 25 HP). Usaha pembuatan pakan ini dirancang untuk skala Kelompok Tani/Gapoktan dengan kapasitas produksi ± 2 ton/hari. Tahapan penumbuhan usaha pembuatan pakan skala kelompok ini, perlu diawali dengan kegiatan magang dan transfer teknologi kepada para peternak, melakukan inventarisasi jenis-jenis bahan lokal yang tersedia, data kandungan nutrisi masing-masing bahan baku, harga bahan baku, pengadaan alat & mesin, proses pengolahan dan manajemen pengelolaan limbah, penyusunan formulasi pakan, serta penyiapan tempat prosesing.

(1). Kegiatan Magang & Transfer Teknologi

Program Magang dirancang untuk menyiapkan tenaga-tenaga terampil dan profesional bidang industri pakan untuk mendukung agribisnis peternakan. Upaya tersebut berbentuk pelatihan in-door dan out-door untuk aspek keteknikan, manajemen dan organisasi produksi. Tujuan program ini adalah sebagai berikut :

1. Mengembangkan pengetahuan peserta dalam aspek bahan baku pakan ternak (jenis, potensi, perilaku, kualitas, kuantitas dan kontinuitasnya).

2. Mengembangkan kemampuan menyusun formulasi berbagai jenis pakan (konsentrat, complete feed, feed additive, sumber serat, dll).

3. Mengembangkan keterampilan peserta dalam aplikasi teknologi pengolahan limbah pertanian & limbah agroindustri untuk produksi pakan ternak (operasional alat & mesin, quality control, dll).

4. Mengembangkan kemampuan merancang kapasitas produksi pakan yang layak secara teknis dan ekonomis (skala usaha, manajemen produksi dan strategi pemasaran).

Hasil yang diharapkan dari kegiatan Magang adalah:

· Diperolehnya tenaga-tenaga terampil dan profesional yang menguasai dan mampu mengembangkan teknologi pakan, formulasi pakan, dan manajemen usaha pabrik pakan skala kecil dan menengah.

· Tersebarnya hasil penelitian/pengkajian teknologi pakan ternak spesifik lokasi berbahan baku lokal yang siap dikembangkan oleh para petani/peternak, petugas teknis, pelaku agribisnis di daerah serta dunia usaha.

· Berkembangnya usaha pabrik pakan mini yang dikelola secara swadaya oleh Kelompok Tani/Gapoktan yang lebih kompetitif dan efisien, sehingga para peternak memiliki peluang untuk maju bersama seiring dengan perkembangan usaha ternak dan industri pakannya di daerah.

Program ini membekali peserta dengan pengetahuan tentang teknologi pakan dan prosesing bahan baku, mengembangkan ketrampilan untuk menjadi formulator, designer dan sekaligus operator pabrik pakan. Kegiatan dilaksanakan di BPTP Jawa Timur dengan metode ceramah dan diskusi secara partisipatif di kelas, kunjungan lapang, dan praktik langsung tentang aplikasi teknologi pakan.

(2).Inventarisasi Bahan Lokal

Data awal yang diperlukan dalam pembuatan pakan adalah kandungan nutrisi setiap jenis bahan. Pada Tabel 1 dicantumkan kandungan nutrisi beberapa jenis limbah pertanian & perkebunan, daun-daunan dan limbah agroindustri yang tersedia di wilayah Jawa Timur yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan pakan. Disamping informasi tentang nutrisi, dalam pembuatan pakan dibutuhkan informasi harga bahan baku.

Pada Tabel 2 dicantumkan harga kisaran beberapa jenis limbah pertanian, perkebunan dan agroindustri di wilayah Jawa Timur yang berlaku pada bulan April 2007. Untuk meningkatkan kualitas limbah dan biodegradasinya, limbah pertanian diberi perlakuan fisik yaitu digiling dan perlakuan biologi dengan cara fermentasi menggunakan jasad renik.

(3). Perlakuan Pra-Digesti

Penggilingan bahan bertujuan mengurangi ukuran partikel, dengan cara dicincang dan digiling. Ada tiga kriteria hasil penggilingan yaitu kasar, medium dan halus. Penghalusan bahan dilakukan dengan menggunakan mesin penghancur bahan (Chopper Modif) dengan menggunakan pisau & pemukul pada kecepatan diatas 1.450 rpm. Perlakuan kimiawi hanya diterapkan pada jerami padi dan pucuk tebu yang bertujuan untuk merenggangkan ikatan selulosa dengan lignin dan terjadi pembengkakan (swelling) sel sehingga kecernaan naik. Perlakuan urea (NH3) pada jerami padi dapat menaikkan kandungan nitrogen, fermentasi rumen, konsumsi bahan kering, kecernaan dan kecepatan pencernaan dinding sel dan bahan organik (UTOMO et al., 1988). Dosisnya antara 2–5% dari berat BK jerami. Lama peram antara 1-8 minggu, kadar air antara 40–60%.

Perlakuan biologi, bertujuan mengubah struktur fisik bahan oleh enzim delignifikasi dan menaikkan kandungan protein dengan mikroorganisme. Perlakuan biologi pada dasarnya adalah pengkomposan sekaligus pra-digesti dengan penumbuhan jamur atau penambahan enzim (SOEJONO et al., 2001).

Pengolahan kulit kopi dan kakao dilakukan dengan pengeringan sampai kadar airnya mencapai ± 15 %, kemudian disimpan dalam karung. Sebelum digunakan sebagai campuran pakan, difermentasi menggunakan mikroba strain Aspergilus niger atau Lactobacillus casei, ditambah molases sebanyak 5% dan urea 1% dari bahan kering, diperam selama 2 minggu.

(4). Suplementasi

Perlakuan suplementasi dilakukan dengan cara penambahan bahan yang memiliki kandungan protein, energi dan kecernaan yang tinggi, yaitu berupa konsentrat yang dibuat dari limbah agroindustri. Tujuan suplementasi adalah untuk menambah dan menyeimbangkan kandungan nutrisi dalam pakan.

Tabel 1. Kadar nutrisi beberapa jenis limbah pertanian, perkebunan agroindustri.

No

JENIS BAHAN

Kandungan Nutrisi (%)

BK

PK

LK

SK

TDN

I. LIMBAH PERTANIAN & PERKEBUNAN:

1.

Jerami Padi

31.87

5.21

1.17

26.78

51.49

2.

Jerami Kac.Kedele

30.39

14.10

3.54

20.97

61.59

3.

Jerami Kac.Tanah

29.08

11.31

3.32

16.62

64.50

4.

Jerami Kac.Hijau

21.93

15.32

3.59

26.90

55.52

5.

Jerami Kac.Panjang

28.40

6.94

3.33

33.49

55.28

6.

Jerami Kac.Tunggak

15.52

16.06

3.93

38.08

48.31

7.

Jerami kulit kedele

61.93

7.99

5.07

38.67

56.13

8.

Jerami Jagung Segar

21.69

9.66

2.21

26.30

60.24

9.

Kulit Kedele

90.37

18.96

1.25

22.83

62.72

10.

Kulit Kopi

91.77

11.18

2.50

21.74

57.20

11.

Kulit Kakao

89.37

14.99

6.28

23.24

55.52

12.

Kulit Kac.Tanah

87.38

5.77

2.51

73.37

31.70

13.

Kulit Biji Kapuk

89.54

13.13

2.04

34.12

52.32

14.

Klobot Jagung

42.56

3.40

2.55

23.32

66.41

15.

Pucuk Tebu

21.42

5.57

2.42

29.04

55.29

16.

Tongkol Jagung

76.61

5.62

1.58

25.55

53.08

II. DAUN-DAUNAN:

1.

Daun Gamal (Glirisidia)

16.96

18.15

4.37

21.57

61.46

2.

Daun Kaliandra

39.58

18.70

2.44

22.24

60.26

3.

Daun Lamtoro

29.83

27.55

5.29

10.58

76.78

4.

Daun Dadap

25.92

20.05

2.02

33.60

63.08

5.

Daun Jaranan

24.49

18.50

1.34

23.59

62.13

6.

Daun Nangka

33.02

14.95

2.20

31.37

59.34

7.

Daun Sengon

25.68

24.46

4.37

37.13

52.11

8.

Daun Singkong

22.43

26.98

8.58

11.10

74.39

9.

Daun Ubi Jalar

15.16

15.00

2.73

22.26

51.94

10.

Daun Pisang

18.26

14.63

2.72

15.89

56.17

11.

Daun Mimba

39.90

12.08

3.13

32.23

63.92

III. LIMBAH AGROINDUSTRI:

1.

Ampas Tahu

10.79

25.65

5.32

14.53

76.00

2.

Ampas Kecap

85.43

36.38

17.28

17.82

89.55

3.

Ampas Bir

31.17

26.45

10.25

7.06

78.71

4.

Ampas Berem

81.63

3.15

2.12

2.10

55.83

5.

Ampas Gula Cair

34.31

5.11

6.24

8.01

54.96

6.

Bungkil Kopra

90.56

27.60

11.22

6.85

75.33

7.

Bungkil Klenteng

89.69

30.83

3.81

8.70

78.01

8.

Bungkil Kac.Tanah

91.45

36.40

17.24

0.89

71.72

9.

Bungkil Kedele

89.41

52.08

1.01

25.53

40.27

10.

Bungkil Kelapa

84.77

26.63

10.40

14.71

73.40

11.

Dedak Padi

91.27

9.96

2.32

18.51

55.52

12.

Dedak Gandum(Pollard)

89.57

16.41

4.01

5.86

74.83

13.

Dedak Jagung(Empog)

84.98

9.38

5.59

0.58

81.84

14.

Tetes/Molases

50.23

8.50

-

-

63.00

15.

Onggok Kering

90.17

2.84

0.68

8.26

77.25

16.

Kulit Biji Kedele

91.42

21.13

3.03

23.18

69.43

17.

Kulit Biji Jagung (Tumpi)

87.39

8.66

0.53

21.30

48.48

18.

Tepung Gaplek Afkir

87.02

2.41

0.79

8.95

73.49

Sumber: WAHYONO et al.(2003).

Keterangan : BK= bahan kering; PK= protein kasar; LK= lemak kasar; SK= serat kasar; TDN=total digestible nutrient.

Tabel 2. Harga kisaran beberapa bahan baku pakan dari limbah di wilayah

Jawa Timur bulan April 2007.

No.

Nama Bahan

Harga Kisaran (Rp/Kg BK)

No.

Nama Bahan

Harga Kisaran (Rp/Kg BK)

1.

Jerami Padi

100-125

16.

Gaplek

800-1000

2.

Jerami Kedelai

100-150

17.

Gamblong

600-750

3.

Jerami Kc. Tanah

100-125

18.

Tetes / Molases

1000-1150

4.

Jerami Jagung

110-150

19.

Ampas Tahu

700-800

5.

Pucuk Tebu

115-125

20.

Ampas Kecap

800-900

6.

Janggel Jagung

125-150

21.

Tumpi Jagung

250-300

7.

Kulit Kac. Tanah

150-175

22.

Kulit Telor

200-300

8

Kulit Kedelai

150-175

23.

Kulit Kerang

150-200

9

Kulit Kopi

200-225

24.

Bungkil Kedelai

1000-1200

10.

Kulit Ktl. Pohon

100-150

25.

Bungkil Kopra

800-1000

11.

Dedak Padi

800-1100

26.

Kulit Kakao

250-300

12.

Ampas Bir

800-950

27.

Garam dapur

350-450

13.

Bulu unggas

500-700

28.

Limbah udang

1000-1200

14.

Tulang

800-1000

29.

Ikan rucah

2500-3000

15.

Kapur

150-300

30.

Pollard

1400-1500

Sumber : HARDIANTO et al. (2007). – Harga dalam bentuk bahan kering (BK).

(5). Penyusunan Formulasi Pakan

Setelah limbah pertanian digiling dan difermentasi, selanjutnya disusun formulasi pakan sesuai kebutuhan nutrisi ternaknya. Tujuan penyusunan formulasi adalah memperoleh pakan yang kandungan nutrisinya seimbang dengan harga yang wajar. Untuk itu, perlu disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi untuk masing-masing jenis ternak sesuai fase pertumbuhannya.

Pada contoh kasus berikut ini, formulasi pakan yang dibuat adalah pakan untuk sapi potong pada fase pembesaran dan fase penggemukan. Alternatif formulasi pakan yang dicantumkan pada Tabel 3 dihitung berdasarkan kebutuhan nutrisi ternak sebagai berikut:

  • Sapi muda dengan berat 200 kg dan pertambahan berat badan yang diharapkan sebesar 0.5 kg/ekor/hari
  • Sapi yang digemukkan dengan berat sekitar 400 kg dengan dua target pertambahan berat badan yaitu 0.8 kg/ekor/hari dan 1.2 kg/ekor/hari.

Dengan susunan formulasi dan jumlah pemberian pakan seperti pada Tabel 3, maka dapat dihitung ketersediaan nutrisi dari pakan yang diberikan dan dibandingkan dengan kebutuhan nutrisi ternak sesuai fase pertumbuhan dan target pertambahan berat badannya. Dengan komposisi formulasi pakan pada Tabel 3, terlihat bahwa jumlah nutrisi pakan yang diberikan cukup memenuhi kebutuhan nutrisi ternak sapi. Disamping itu, dari aspek harganya pakan konsentrat yang dibuat lebih murah dibandingkan dengan harga konsentrat dari pabrikan komersial. Harga konsentrat komersial untuk sapi potong di wilayah Jawa Timur antara Rp.1.100-1.200,-/kg, sedangkan dengan membuat sendiri dari limbah pertanian hanya sekitar Rp.650-800,-/kg.

Tabel 3. Formula pakan untuk fase pembesaran dan penggemukan sapi potong.

No.

Bahan Pakan

Komposisi (%)

Pakan Sapi Fase

Pembesaran

PBB = 0.5 kg/hari

Pakan Sapi Fase Penggemukan

PBB =

1.2 kg/hari

PBB = 0.8 kg/hari

A. Konsentrat:

1.

Dedak Padi (sumber energi + serat)

18

20

18

2.

Gamblong (sumber energi)

9

7.5

9

3.

Empok Jagung (sumber energi + protein)

6

5

6

4.

Kulit Kakao (sumber protein + serat)

6

5

6

5.

Kulit Kopi (sumber protein + serat)

6

5

6

6.

Tongkol Jagung (sumber serat)

18

-

18

7.

Kulit Kacang Tanah (sumber serat)

5

-

5

8.

Bungkil Kelapa (sumber protein)

12

15

12

9.

Bungkil Klenteng (sumber protein)

12

10

12

10.

Jagung Giling (sumber energi + protein)

-

17.5

-

8.

Pollard (sumber energi + protein)

-

10

-

9.

Tetes (sumber energi + palatabilitas pakan)

5

4

5

10.

Garam Dapur (sumber mineral)

1

1

1

11.

Kapur (sumber mineral)

1

-

1

12.

Urea (bahan sumber protein)

1

-

1

Total:

100 %

100 %

100 %

Jumlah Pemberian Konsentrat (kg/ekor/hari):

2

5

3

Harga Konsentrat (Rp/kg):

450,-

650,-

450,-

Biaya Konsentrat (Rp/ekor/hari):

900,-

3.250,-

1.350,-

B. Hijauan:

1.

Silase Jagung (kg/ekor/hari)

4

10

10

2.

Jerami Padi Fermentasi (kg/ekor/hari)

6

25

13

Jumlah Pemberian Hijauan (kg/ekor/hari):

10

35

23

Harga Hijauan (Rp/kg):

150,-

150,-

150,-

Biaya Hijauan (Rp/ekor/hari)

1.500,-

5.250,-

3.450,-

Total Biaya Pakan (Konsentrat+Hijauan) (Rp/ekor/hari):

2.400,-

8.500,-

4.800,-

Keterangan : PBB = pertambahan berat badan

(6). Tempat Prosesing

Setelah formulasi pakan disusun dan diketahui kualitas serta harganya, selanjutnya menyiapkan tempat untuk prosesing. Tempat yang dibutuhkan seluas ± 100 m2, yang terbagi ke dalam 3 ruangan, yaitu tempat mesin (25 m2), tempat bahan baku (60 m2), dan tempat produk jadi (15 m2). Bentuk bangunan yang standar adalah bangunan tertutup dengan ruang di bagian dalam terbuka. Namun kebutuhan untuk tempat prosesing ini bersifat fleksibel dan bila sudah tersedia bangunan di lokasi, maka tidak perlu membuat bangunan baru untuk menghemat biaya investasi.

(7). Prosesing

Proses pengolahan limbah pertanian menjadi pakan terdiri dari: pengeringan dengan panas matahari atau menggunakan alat pengering untuk menurunkan kadar air sampai sekitar 10-15%, pencacahan & penghancuran bahan dengan mesin chopper modif dan proses pencampuran dengan menggunakan mixer horizontal dan terakhir proses penimbangan & pengemasan.

1

3

5

2

4

Tahapan Pembuatan Pakan

Keterangan:

1. Penimbangan bahan baku sesuai perbandingan formulasinya.

2. Bahan ditumpuk merata (adonan) paling bawah komposisi terbanyak, makin

keatas makin sedikit.

3. Penghancuran / penggilingan

4. Pencampuran untuk menyatukan ukuran partikel supaya merata dan mudah dikemas .

5. Penimbangan pakan jadi dengan berat tertentu (misalnya 25-50 kg).

Gambar 1. Contoh denah bangunan tempat prosesing pakan.

a)Tampak depan; b). Tampak samping

(8). Mesin Pengolahan, terdiri dari :

Mesin Chopper Modif Mesin Mixer Horizontal

Spesifikasi Mesin:

Item

System

Dimensi

Volume/Capacity

Chopper Modif

Cutting + Hummer Mill

125cmx90cmx120cm

132,6 lt (tube)

Penggerak

Direct Speed, Double Starter

Merk : Tianli

26 HP

Mixer Horizontal

Double Ulir

150cmx85cmx207cm

1.235 lt

Penggerak

Reducer Speed (Gearbox)

Merk : Tianli

25 HP

Cara mengoperasikan mesin:

a). Sebelum menghidupkan mesin; kendurkan vanbelt yang menghubungkan penggerak dengan as transmisi utama melalui pemutaran transmisi searah jarum jam. Nyalakan mesin penggerak, setelah mesin hidup dengan suara stabil kencangkan vanbelt pada as transmisi utama dengan pemutaran transmisi berlawanan arah jarum jam dan mesin siap beroperasi.

b). Setelah mesin hidup; bahan-bahan dihaluskan menggunakan mesin chopper modif, kemudian ditambahkan konsentrat dan dimasukkan ke mesin mixer untuk proses pencampuran. Lama pencampuran sekitar 15 menit, kemudian pakan siap dikeluarkan untuk dikemas. Berat setiap kemasan dibuat sesuai kebutuhan (25-50 kg). Pakan yang sudah jadi, bisa langsung diberikan ke ternak atau disimpan. Lama waktu penyimpanan tergantung kadar air pakan. Pada kadar air 10-12%, pakan dapat disimpan selama 3-4 bulan.

(2). TEKNOLOGI PEMBUATAN PUPUK ORGANIK GRANULER

Secara alami, bahan-bahan organik akan terurai dengan bantuan mikroorganisme yang ada di alam. Penyebaran potongan jerami setelah panen dan dibiarkan membusuk sampai musim tanam tiba merupakan salah satu contoh aplikasi penggunaan bahan organik pada tanah. Pada sistem pengkomposan, bahan organik akan terurai dan terjadi pemantapan bahan-bahan organik secara biologis dalam lingkungan dan kondisi yang optimum untuk proses penguraian bahan organik, sehingga proses penguraian berlangsung lebih cepat, seragam dan mutu kompos lebih baik dibandingkan bahan organik yang penguraiannya tidak terkontrol.

Tabel 4. Kisaran produksi kotoran dari berbagai jenis ternak

No

Jenis Ternak

Produksi Kotoran

(Kg basah/ekor/hari)

1.

Sapi Perah

10 – 15

2.

Sapi Potong

8 – 10

3.

Kambing & Domba

1-2

4.

Ayam Potong/Petelur

0.1 – 0.2

5.

Babi

2 – 3

Kisaran Rendemen Kompos (%)

65

Teknologi pengkomposan sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa bahan tambahan. Bahan tambahan yang biasa digunakan misalnya cacing dan Effective Microorganism. Pengkomposan secara aerobik, dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Pengkomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Sedangkan pengkomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada proses pengkomposan di antaranya adalah :

- Kelembaban: aktivitas mikroba optimum pada kadar air 50 – 60%.

- Suhu : suhu optimum proses pengkomposan berkisar 35 – 55 0C. Pada proses pengkomposan secara aerobik, terjadi peningkatan suhu disebabkan oleh proses eksotermis yang dikatalisasi oleh aktivitas enzyme mikroba. Pada awal proses hanya aktifitas bakteri dan jamur menyebabkan peningkatan suhu di pusat tumpukan sampai sekitar 700C. Pada suhu ini hanya bakteri thermophilic dan actinomycetes yang aktif. Seiring dengan peningkatan laju dekomposisi, suhu semakin menurun, jamur dan bakteri yang sensitive terhadap panas menjadi aktif kembali. Suhu dengan demikian menjadi faktor penting pada proses pengkomposan yang harus sering di monitor.

- C/N ratio: rasio C/N optimal bahan untuk proses pengkomposan adalah 20 – 30. Apabila rasio C/N lebih besar dari 30, maka proses pengkomposan akan berjalan lamban. Pada bahan yang kadar karbonnya tinggi, biasanya dicampurkan dengan bahan yang kandungan nitrogennya tinggi seperti urea dan kotoran hewan. Sebaliknya jika rasio C/N lebih rendah dari 20, kandungan nitrogen akan menguap dalam bentuk ammonia. Walaupun proses penguraian bahan organik tidak akan terganggu akibat rasio C/N yang rendah. Kandungan nitrogen yang terikat pada akhir produk rendah, sehingga mutu kompos juga rendah.

- Derajat keasaman (pH): pH optimum selama pengkomposan adalah 5-8. Rendahnya pH pada awal proses pengkomposan akan menghambat aktifitas mikroba, sehingga peningkatan suhu pada pusat tumpukan tidak tercapai. Sebaliknya jika pH lebih dari 8.5, nitrogen akan cepat menguap dalam bentuk ammonia.

- Kecepatan aliran udara: bergantung pada sistem pengkomposan yang dilakukan, pengkomposan secara aerobic memerlukan adanya udara untuk aktifitas mikroba pengurai. Kecepatan udara pengkomposan bervariasi sekitar 9 mm3/gram/jam untuk fase pematangan, sedangkan pada awal proses kecepatan udara 284 mm3/gram/jam. Sedangkan untuk proses pengkomposan secara anaerobic, mikroba pengurai dapat beraktifitas pada kondisi dimana tidak terdapat udara, sehingga kondisi pengkomposan diusahakan tertutup dari udara luar.

- Keseragaman ukuran: keseragaman ukuran mempengaruhi keseragaman kematangan kompos dan ukuran akhir kompos. Semakin kecil ukuran bahan, semakin mudah dalam proses dekomposisi. Ukuran bahan awal pengkomposan berkisar antara 1-2 cm.

Pengkomposan secara aerobik dapat dilakukan dalam beberapa cara dari mulai penggunaan teknologi yang sederhana mengandalkan kondisi alam sebagai kontrol lingkungan sampai dengan pengkomposan secara mekanisasi penuh. Beberapa sistem pengkomposan tersebut adalah :

- Sistem Open Windrow Composting (pengkomposan sistem tumpukan) : merupakan cara pengkomposan yang paling sederhana. Sistem pengkomposan dengan cara ini dilakukan dengan menumpuk bahan yang akan dikomposkan dengan ketinggian 1-1.8 m. Secara alami proses dekomposisi akan terjadi. Wahyono dkk (2003) memberikan saran teknologi pengolahan kompos secara open windrow dilakukan dengan cara bergulir (dinamakan open windrow composting bergulir). Pada sistem ini tumpukan bahan awal berada pada bagian dekat pintu masuk bahan baku, kemudian pada saat pembalikan yang dilakukan seminggu sekali sekaligus dilakukan pemindahan tumpukan. Demikian seterusnya hingga kompos mencapai kematangan, tumpukan telah berada dekat dengan tempat pengepakan. Dengan sistem ini memudahkan dalam penataan pengkomposan dan lama bahan yang dikomposkan dapat diketahui dari letak tumpukan.

- Sistem aerasi mekanis : pada sistem ini, pengaturan jumlah udara dilakukan secara mekanis dengan cara pemompaan udara ke tumpukan. Jumlah udara yang disalurkan ke tumpukan tergantung pada umur pengkomposan.

- Sistem pengkomposan pada tunnel/drum : pada sistem ini, pengkomposan dilakukan pada tunnel. Pengadukan dilakukan secara kontinyu dengan kecepatan rendah dan sirkulasi udara dalam tunnel menggunakan pompa.

Tipe pengkomposan sistem windrow telah banyak dilakukan di Indonesia karena sistem pengkomposan ini sederhana dan biaya investasinya lebih murah. Namun untuk kondisi Indonesia, pengkomposan dengan sistem windrow perlu diberi atap untuk menghindari kelembaban yang terlalu tinggi pada musim hujan atau penguapan yang terlalu tinggi pada musim kemarau.

Selain itu, berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh Tim Teknologi Kompos BPPT didapatkan kesimpulan bahwa dalam teknologi pembuatan kompos secara aerobik, sistem open windrow adalah yang paling tepat untuk diterapkan di Indonesia (Anonim, 2006). Pemilihan sistem tersebut berdasarkan konsepsi yang dapat dipertanggungjawabkan secara teknis, sosiologis dan ekonomis. Dengan sistem open windrow secara teknis tidak diperlukan sarana dan prasarana yang kompleks dan modern sehingga dapat diterapkan dengan mudah dan tepat guna. Demikian pula jumlah modal, biaya operasional dan biaya pemeliharaan tempat pengkomposan relatif lebih rendah dibandingkan dengan semua sistem pengkomposan lainnya. Sedangkan prosesnya sangat cocok dengan iklim tropika dimana kelembaban dan temperatur udaranya cukup tinggi dan stabil (25 sampai 30 °C).

Pada dasarnya pengkomposan dengan sistem open windrow merupakan proses degradasi materi organik menjadi materi yang stabil melalui reaksi biologis mikroorganisma secara aerobik dalam kondisi yang terkendali. Ketika sampah padat organik dipaparkan di udara dan kandungan airnya sesuai, maka berbagai mikroorganisme yang biasanya sudah terdapat dalam sampah dan mampu melakukan proses pengkomposan mulai bekerja. Selain oksigen dari udara dan air, mikroorganisme memerlukan pasokan makanan yang mengandung karbon dan unsur hara seperti nitrogen, fosfor dan kalium untuk pertumbuhan dan reproduksi mereka. Kebutuhan makanan tersebut juga disediakan oleh sampah organik. Mikroorganisme kemudian melepaskan karbon dioksida, air dan energi, berkembang biak dan akhirnya mati. Sebagian dari energi yang dilepaskan tersebut digunakan untuk pertumbuhan dan gerakan, sisanya dilepaskan sebagai panas. Akibatnya setumpuk bahan kompos melewati tahap-tahap penghangatan, suhu puncak, pendinginan dan pematangan.

Proses pembuatan kompos berlangsung dengan menjaga keseimbangan kandungan nutrien, kadar air, pH, temperatur dan aerasi yang optimal melalui penyiraman dan pembalikan. Pada tahap awal proses pengkomposan, temperatur kompos akan mencapai 65 – 70 °C sehingga organisma patogen, seperti bakteri, virus dan parasit, bibit penyakit tanaman serta bibit gulma yang berada pada limbah yang dikomposkan akan mati. Pada kondisi tersebut gas-gas yang berbahaya dan baunya menyengat tidak akan muncul. Penyiraman dan pembalikan tumpukan dilakukan secara berkala untuk menjamin tersedianya oksigen yang cukup bagi berlangsungnya proses biodegradasi oleh mikroorganisme penghasil kompos. Proses pengkomposan umumnya berakhir setelah 6 sampai 7 minggu yang ditandai dengan tercapainya suhu terendah yang konstan dan kestabilan materi. Proses pengkomposan dengan sistem open windrow praktis tidak memerlukan tambahan zat kimia dan inokulan mikroba dari luar sehingga aman bagi lingkungan.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, pengkomposan sistem open windrow composting bergulir merupakan sistem yang lebih murah biaya investasinya. Pada umumnya sistem pengkomposan dengan cara ini pada kapasitas kecil dapat dilakukan oleh tenaga manusia dengan bantuan alat-alat sederhana seperti cangkul, parang, plastik dll. Namun, pada skala sedang/besar, kemungkinan introduksi alsin dibutuhkan. Berikut adalah tahapan pengkomposan dengan sistem open windrow dan kemungkinan penggunaan alsin.

1. Pemilahan bahan

Pemilahan bahan yang dikomposkan bertujuan untuk memisahkan bahan organik dan non-organik. Pemilahan bahan secara mekanis masih sulit dilakukan dengan alsin sederhana, sehingga pada tahapan ini biasanya dilakukan oleh tenaga manusia. Pemisahan terbaik sebaiknya dilakukan pada tingkatan awal produksi sampah.

2. Pengecilan ukuran

Bahan organik mempunyai daya degradasi yang berbeda. Bahan berkayu pada umumnya lebih lambat terdegradasi dibandingkan sisa makanan. Apabila bahan yang akan dikomposkan kondisinya seragam, maka pengecilan ukuran dapat dilakukan secara langsung. Namun apabila kondisi bahan organiknya beragam, sebelum dilakukan pengecilan ukuran, bahan-bahan tersebut dapat dibusukkan dengan cara menutup tumpukan dengan terpal dan dijaga kelembabannya dengan pemberian air secara reguler kurang lebih 1 minggu sebelum proses pembuatan kompos dimulai. Pada tahapan ini terjadi proses hidrolisa membuka dinding-dinding sel bahan organik. Setelah itu bahan-bahan tersebut dapat dihancurkan. Pada tahapan ini kemungkinan introduksi alsin pencacah/penghancur sampah dapat dilakukan.

3. Membuat tumpukan dan membalik kompos

Bahan-bahan organik yang siap untuk dikomposkan, ditumpuk menggunung dan memanjang dengan ketinggingan tumpukan 1-1.8 m dan panjang tumpukan dapat mencapai 4-5 m. Jarak antara tumpukan disesuaikan dengan kemudahan bergeraknya mesin atau pekerja. Pembalikan kompos dilakukan seminggu sekali sambil dilakukan pemindahan kompos ke alur berikutnya disesuaikan dengan umur kompos. Pada tahapan ini, dapat digunakan excavator, namun pada skala yang lebih kecil alsin pembalik kompos yang lebih sederhana dapat diintroduksikan.

4. Pengeringan

Setelah kompos matang, pengeringan dapat dilakukan untuk menurunkan kadar air. Namun tergantung kondisi lingkungan, pada bagian ini pengeringan sifatnya optional. Mesin pengering tipe rotary (drum berputar) dengan pemanas matahari atau dengan tungku barangkali menjadi alternatif yang dapat digunakan.

5. Pengayakan

Kompos yang telah matang kemudian diayak untuk mendapatkan ukuran yang seragam dan memisahkan bahan-bahan yang kemungkinan terbawa pada saat pengkomposan seperti batu kerikil. Introduksi alsin pengayak dapat dilakukan, namun alsin untuk tahapan ini dapat menggunakan alsin penghancur sampah dengan cara mengganti konkaf screen yang terpasang pada drum pencacah bagian bawah.

6. Pengepakan

Kompos yang telah matang dapat langsung dikemas untuk memudahkan pemasaran atau pemindahan barang setelah menjadi kompos. Pengepakan dilakukan untuk menjaga mutu kompos agar tidak terjadi peningkatan kadar air dan penguapan bahan-bahan organik lainnya. Introduksi alsin pengepak berupa kotak penimbang yang dilengkapi mesin pembungkus karung dapat dilakukan pada tahapan ini.

7. Mesin pembuat granul

Proses akhir dari kompos adalah membuat kompos dalam bentuk granul dengan menambahkan bahan aditif lainnya untuk meningkatkan nilai tambah. Zat perekat ditambahkan dalam campuran kemudian dibuat dalam bentuk granul dan dikeringkan. Pada tahapan ini, introduksi alsin pembuat granul dan pengering dapat diaplikasikan.

Gambar 2. Alat pembuatan pupuk organik bentuk granul

Contoh Pembuatan Bokhasi Dari Campuran Kotoran Sapi + Kotoran Ayam +

Arang Sekam

Kotoran sapi mengandung unsur P yang cukup tinggi, kotoran ayam mengandung unsur N yang cukup tinggi dan arang sekam merupakan sumber unsur K. Oleh karena itu, untuk membuat bokhasi atau kompos yang memiliki komposisi unsur N-P-K yang seimbang, maka ketiga limbah tersebut dapat digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan bokhasi.

Kotoran sapi dan ayam yang masih segar belum dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman karena dapat menyebabkan tanaman layu atau bahkan mati. Begitu pula dengan sekam padi, sulit terurai dalam tanah. Oleh karena itu, kotoran sapi, kotoran ayam dan sekam tersebut perlu diproses terlebih dahulu dengan cara difermentasi menggunakan probiotik atau dekomposer untuk mempercepat pengomposan. Sebaiknya kotoran sapi dan ayam digunakan dalam keadaan kering, sedangkan sekam padi diproses menjadi arang sekam.

Proses pembuatan bokhasi dapat dilakukan secara terbuka atau tertutup. Secara terbuka yaitu bahan ditimbun di tempat terbuka diatas permukaan tanah yang ditinggikan dan diberi atap. Sedangkan secara tertutup yaitu bahan ditimbun dalam lubang atau ditutup plastik diatas tanah yang beratap.

A. Komposisi bahan untuk pembuatan bokhasi 1 ton :

- Kotoran sapi : 400 kg ( 4 bagian )

- Kotoran ayam : 300 kg ( 3 bagian )

- Arang sekam : 200 kg ( 2 bagian )

- Dedak padi kasar : 50 kg ( 0.5 bagian )

- Kapur : 50 kg ( 0.5 bagian )

- Larutan dekomposer : 1 liter

- Tetes / Air Gula : 5 liter

B. Proses pembuatannya sebagai berikut:

a. Bahan-bahan tersebut dicampurkan dan ditebarkan secara merata

b. Membuat larutan dekomposer yaitu: (1) EM-4 + tetes/gula + air dengan perbandingan 1:5:100 atau (2) Superdegra + air dengan perbandingan 1 : 100.

c. Larutan kemudian disiramkan ke bahan menggunakan gembor secara merata sampai terbentuk adonan dengan kadar air 40% (bila diremas tangan bahan menggumpal).

d. Selanjutnya bahan ditumpuk diatas lantai ditutup dengan karung goni. Hindari dari genangan air atau sinar matahari langsung. Pada hari ke-2 sampai ke-4 suhu akan meningkat dan dijaga agar tidak terlalu panas (sekitar ± 400 C) dengan cara bahan dibolak-balik atau diangin-anginkan. Proses dekomposisi akan berjalan antara ± 1-2 minggu.

Contoh Pembuatan Kompos Dari Jerami Padi

1. Siapkan petakan kompos di atas tanah sawah dengan isi 1 x 3 x 1.25 m3. Tumpukkan jerami ke dalamnya setebal ± 20 cm, dan basahi dengan air bersih secukupnya, lalu siramkan dengan cairan BioDEK (Cairan BioDEK dibuat dengan cara mencampurkan ½ kg BioDek dengan 10 liter air bersih dan aduk rata).

2. Lakukan demikian seterusnya hingga 6 kali tumpukan dan penyiraman cairan BioDEK hingga ketinggian 1.25 m.

3. Lalu tutup dengan lembaran plastik atau terpal warna gelap untuk mempertahankan kelembaban.

4. Seminggu sekali dilakukan pembalikan untuk aerasi pengomposan. Apabila jerami kering, perlu dilakukan penyiraman. Lakukan hingga 3-4 kali.

5. Kompos yang telah matang berwarna hitam kecoklatan dengan suhu sekitar 30o C berturut-turut selama 3 hari dengan kelembaban 40-60% dan tidak mengeluarkan bau, dan siap digunakan sebagai pupuk organik.

6. Setelah kompos jadi, dapat dilakukan pengkayaan dengan pupuk hayati untuk meningkatkan efisiensi pemupukan.

Gambar 3. Pembuatan Bokhasi dari Kotoran Sapi

Kotoran Sapi Membuat larutan dekomposer

Dicampur bahan pelengkap (arang sekam,

dedak, kapur, tetes)

Difermentasi 1-2 minggu

Dikemas

Parameter indikator keberhasilan pembuatan kompos

Parameter indikator keberhasilan dari unit alsin proses composting diantaranya adalah :

- Mutu kompos yang dihasilkan yaitu kompos yang telah terdekomposisi dengan sempurna serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi pertumbuhan tanaman

- Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut :

* berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah

* tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk

suspensi

* nisbah C/N sebesar 10 – 20, tergantung dari bahan baku dan

derajat humifikasinya

* berefek baik jika diaplikasikan pada tanah

* suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan

* tidak berbau

(3). TEKNOLOGI PENGOLAHAN KOTORAN SAPI UNTUK PRODUKSI BIOGAS

Biogas adalah campuran berbagai macam gas yang susunannya tergantung pada komposisi bahan pada proses produksinya. Bahan utama dari Biogas adalah metan (CH4) yang mencakup 60–70%, sedangkan sisanya berupa CO2, H2S dan lain-lainnya. Gas ini mudah terbakar hampir tanpa meninggalkan bau dengan nyala yang biru dan panas pembakaran berkisar antara 19,7 sampai 23 MJ per m3. Nilai enersi rata-rata dihasilkan setara dengan 21,5 MJ atau 573 BTU per kaki3 atau 5.135 Kcal per m3.

Produksi biogas dilakukan dengan cara kotoran sapi dicampur air dengan perbandingan 1:1 ditempatkan diruang tertutup agar mengalami proses penghancuran dalam kondisi anaerob untuk menghasilkan biogas (Yunus,1987). Kondisi anaerob akan terbentuk gas oleh mikroorganisme secara alami. Pembentukan biogas dari kotoran ternak melalui proses fermentasi bahan organik yang sudah banyak mengandung mikroorganisme yang bisa mengubah limbah menjadi biogas. Fermentasi dapat berlangsung secara optimal dan gas akan terbentuk sekitar 1-3 minggu. Prosesnya dapat dibedakan menjadi 3 tahap, yaitu: (1). pelarutan bahan organik, (2). pengasaman dan terbentuk asam-asam organik untuk pertumbuhan dan perkembangan sel bakteri, (3). methanogenik yaitu pembentukan gas oleh mikroorganisme menghasilkan gas methan.

Faktor yang mempengaruhi produksi biogas: (1). suhu: 10- 55 º C dan suhu optimum 30-35 ºC, (2). derajat keasaman: pH 7 – 8, (3). Pengadukan, yaitu lapisan kerak mengandung lignin supaya mudah dicerna dan proses produksi biogas lebih aktif, (4). bahan penghambat adalah konsentrasi yang lebih dari antibiotik, pestisida, desinfektan, logam berat seperti copper, zeng dll. Faktor lain yang mempengaruhi biogas antara lain: (1). kondisi bahan baku, yaitu C/N ratio yang optimal 25 –30. C/N sampah sekitar 12, kotoran sapi 18, (2). tingkat pengenceran, yaitu: kotoran sapi diencerkan dengan air 1:1, bahan kering kotoran sapi 11-18 %, setelah diencerkan sekitar 7-9 % bahan kering, (3). jenis bakteri, bakteri pembentuk asam (Pseudomonas, Escherichia, Flavobacterium dan Alcaligenes) yang melarutkan bahan organik menjadi asam –asam lemak, sedangkan bakteri metana antara lain: Methanobacterium, Methanosar, dan (4). kebocoran instalasi, yaitu kebocoran gas pada tangki pencerna dan instalasi.

Dalam penentuan kapasitas tangki pencerna perlu mempertimbangkan: a). kebutuhan rata-rata biogas untuk keluarga tani setiap hari sekitar 1,6 m3, jika gas yang dihasilkan kurang dari itu petani kurang memperhatikan pemeliharaannya, b). produksi rata-rata biogas 0,18 m per meter kubik tangki pencerna. Jadi kapasitas tangki biogas untuk ukuran keluarga tani = 1,6/0,18m3 = 8,9 m3; c). kebutuhan kompor setiap jam 250 l, lampu 160 l, jika kebutuhan memasak setiap hari rata-rata dua jam dan lampu tujuh jam, maka ukuran tangki pencerna yang diperlukan ( 2x 250 + 7x 160) l = 1620 l = 1,62 m3 / 0,18 = 8,9 m3.

Unit Biogas modelnya bermacam-macam termasuk tata letak dan bentuknya. Sebelum model tersebut dikembangkan terlebih dahulu dirancang prototipe yang sesuai dengan kondisi lapang dan diuji coba. Tata letak unit Biogas diusahakan dekat dengan saluran pembuangan limbah kotoran ternak, sehingga design unit pengumpulan kotoran ternak dari kandang ternak milik masyarakat perlu diatur dari aspek kapasitas tampungnya dan jaraknya agar masuknya kotoran ke dalam tangki pencerna unit Biogas efisien dan efektif. Dalam penentuan model unit Biogas beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sumber bahan baku (kotoran ternak) harus tersedia secara kontinyu, praktis dalam pengerjaan dan mudah dalam mendistribusikan produk gas maupun pupuk yang dihasilkan ke rumah-rumah penduduk. Syarat-syarat kelayakan unit Biogas antara lain: a).rancangannya mudah dan sederhana, b).bahan yang digunakan murah dan mudah didapat, c).tidak rumit dalam pemeliharaan, dan d).hasilnya mudah dimanfaatkan.

Sebelum membuat unit Biogas diperlukan data/informasi tentang: a).kondisi lingkungan sekitar, b). data calon pengguna, c). penentuan formulasi dan kapasitas tangki pencerna (kebutuhan energi, struktur tanah, bentuk kandang ternak, dll). Prosedur perencanaan meliputi penentuan lokasi, bahan dan alat yang dibutuhkan, tenaga kerja dan prosedur pembuatan. Penentuan lokasi: unit Biogas sebaiknya ditempatkan dekat dengan kandang dan sekaligus dekat dengan rumah atau dapur sehingga Biogas yang akan digunakan tidak memerlukan banyak alat penyalurannya. Namun demikian aspek pengamanan sumber Biogas perlu diperhatikan. Bahan dan alat: bahan yang digunakan antara lain batu merah, semen, kerikil, kapur, pasir, dan serbuk kedap air. Alat-alat meliputi alat untuk distribusi Biogas (pipa GI, pipa paralon, pipa karet, kran, polyethylene, kompor, lampu, manometer); dan alat pembuatan tangki pencerna meliputi tali plastik, rafia, bambu, plat aluminium, kawat, pipa paralon, besi cor, ember, cangkul dan cetok). Tenaga Kerja: tukang batu ahli 1 orang dan pembantunya sebanyak 2-3 orang. Prosedur pembuatan: produksi Biogas yang akan dihasilkan tergantung pada volume tangki pencerna, kualitas dan jenis kotoran ternak, dan suhu bahan. Bagi keluarga petani di pedesaan rata-rata kebutuhan Biogas setiap hari sekitar 1,6 m3. Metode penentuan besarnya volume tangki pencerna dihitung berdasarkan rumus: Vd = Sd x Rt, dimana Vd = volume tangki pencerna, Sd = jumlah masukan kotoran + air per-hari, dan Rt = lama pencernaan (retention time). Waktu yang diperlukan untuk membuat unit Biogas dengan volume tangki pencerna antara 10–20 m3 minimal sekitar 10 hari.

Sludge

Limbah hasil pengolahan bio-gas atau sludge terdiri dari dua macam yaitu limbah dalam bentuk padatan dan limbah cair. Kandungan nutrisi sludge relatif baik untuk dimanfaatkan menjadi pakan ternak dan pupuk tanaman, khususnya tanaman sayuran.

Gambar 4. Limbah padatan dari hasil prosesing biogas dimanfaatkan

sebagai pakan ternak.

Gambar 5. Hasil olahan limbah padat biogas menjadi pupuk kompos,

pakan ayam pedaging, ayam petelur, pakan ikan, dan

konsentrat sapi.

Gambar 6. Pupuk cair yang diolah dari sludge untuk

pemupukan tanaman sayuran, bunga, dll.

(4). TEKNOLOGI PENGAWETAN HIJAUAN DALAM BENTUK SILASE

SILASE adalah pakan ternak hasil pengawetan rumput dan hijauan lainnya yang masih memiliki kadar air tinggi melalui proses fermentasi dengan bantuan jasad renik (mikroorganisme) dalam kondisi tanpa oksigen (an-aerob), dengan penambahan atau tanpa penambahan bahan pengawet. Keberhasilan dalam pembuatan silase dipengaruhi oleh jenis bahan, peralatan, dan proses pembuatannya. Untuk keberhasilan proses pembuatan silase ini dapat dilakukan dengan usaha mempercepat kondisi an-aerob di dalam silo (tempat pembuatan silase) yaitu dengan cara pemadatan dan penutupan silo secara rapat.

Dalam tulisan ini dibahas cara pembuatan silase dengan penambahan starter (tetes, dedak) dan probiotik (fermentor) untuk mempercepat proses fermentasinya menggunakan drum plastik.

Bahan dan Peralatan

Bahan-bahan hijauan yang sesuai digunakan untuk pembuatan silase adalah hijauan yang memiliki ukuran batang cukup besar seperti rumput gajah, rumput raja, batang & daun jagung, pucuk tebu, dll. karena hijauan yang memiliki batang besar umumnya sulit untuk dikeringkan. Oleh karena itu pengawetannya lebih mudah dalam bentuk segar (silase). Bahan silase yang disarankan berupa rumput gajah atau rumput raja yang dipanen umur 40-60 hari (sebelum berbunga); batang & daun jagung umur 70-90 hari, dan pucuk tebu segar.

Bahan starter adalah bahan yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi seperti tetes, dedak padi, dedak jagung, dll. yang berfungsi sebagai bahan makanan bakteri fermentor agar bakteri tersebut tidak merusak hijauan yang diawetkan. Jumlah pemberian bahan starter sekitar 3% dari berat hijauan yang diawetkan.

Fermentor adalah probiotik yang mengandung bakteri untuk fermentasi hijauan yang jenisnya sesuai untuk ternak ruminansia. Saat ini di pasaran sudah banyak dijual produk-produk probiotik untuk ternak (EM-4, Cattlegro, Probion, Starbio, dll).

Peralatan yang digunakan antara lain silo, chopper atau alat untuk mencacah hijauan, plastik atau bahan lain yang kedap udara dan tahan terhadap rembesan air. Silo adalah tempat pembuatan silase, bentuknya terdiri dari tower silo, stack silo, bunker silo dan tranch silo. Cara lain untuk pembuatan silo adalah (1). dengan membuat lubang seperti sumur kemudian diberi plastik; (2). membuat saluran pada tanah yang memiliki kemiringan; (3). menggunakan ”hong” berukuran besar yang biasa digunakan untuk saluran air; dan (4). menggunakan drum yang terbuat dari plastik. Untuk kondisi para peternak di pedesaan dan lebih praktisnya, maka proses pembuatan silase cukup menggunakan drum plastik yang memiliki penutup. Sedangkan untuk kondisi peternakan skala komersial umumnya pembuatan silase menggunakan silo tower yang berukuran besar.

Proses Pembuatan Silase Dengan Drum Plastik

Proses pembuatan silase adalah sebagai berikut:

  • Bahan hijauan yang telah dipanen, dilayukan terlebih dahulu selama satu hari satu malam untuk menurunkan kadar air sampai ± 60-70%.
  • Hijauan dipotong atau dicacah dengan ukuran panjang antara 3-5 cm, makin kecil makin baik karena akan memudahkan pemadatan.
  • Membuat bahan starter dengan mencampur tetes + air + dedak dengan perbandingan 1 : 4 : 1.
  • Membuat larutan fermentor dengan mencampur bahan probiotik (EM-4 atau Cattlegro) + air dengan perbandingan 1 : 100.
  • Bahan starter ditaburkan ke dalam hijauan, kemudian larutan fermentor disiramkan secara merata menggunakan alat penyiram (gembor).
  • Hijauan yang sudah ditaburi starter dan disiram probiotik , dimasukkan ke dalam drum plastik sambil dipadatkan. Pemadatan ini harus dilakukan sebaik-baiknya. Tujuan pemadatan adalah untuk mengurangi kadar udara di dalam drum plastik, sehingga kondisi an-aerob dapat dicapai secepat mungkin. Pengisian drum oleh hijauan dilakukan sampai penuh.
  • Setelah drum diisi penuh, kemudian ditutup rapat dan diberi beban pemberat diatas penutupnya. Proses pembuatan silase akan selesai sekitar 20-30 hari.

Panen Hijauan Daun & Batang Dipotong & Dicacah

Silase Ditutup Rapat 30-40 hari Dimasukkan ke Drum

Ciri-Ciri Silase Yang Baik

Jika pembuatan silase dilakukan dengan benar, maka akan diperoleh hasil silase yang baik dan berkualitas. Ciri-ciri silase yang baik adalah:

· Berbau harum

· Rasa agak manis

· Tidak berjamur

· Tidak menggumpal

· Berwarna kehijau-hijauan

· pH antara 4-4,5.

Pemberian Silase Ke Ternak

Silase yang baru diambil dari dalam drum tidak boleh langsung diberikan ke ternak, harus diangin-anginkan atau dijemur terlebih dahulu. Silase yang diambil pada pagi hari diberikan ke ternak pada sore harinya atau yang diambil sore diberikan ke ternak pada pagi harinya.

Ternak sebelum diberi silase, sebaiknya diberikan rumput/jerami kering terlebih dahulu guna mencegah terjadinya mencret atau kembung. Pemberian silase dilakukan secara bertahap sedikit demi sedikit agar ternak dapat beradaptasi dengan silase tersebut. Jumlah pemberian silase ke ternak disesuaikan dengan berat badannya. Untuk sapi pemberian silase antara 10-20 kg/ekor/hari, untuk kambing & domba antara 2-2.5 kg/ekor/hari atau kurang lebih 50% dari jumlah hijauan yang diberikan.

(5). TEKNOLOGI PEMBUATAN JAMU TERNAK

Tanaman empon-empon atau bio-farmaka memiliki berbagai macam khasiat baik untuk manusia maupun ternak. Jamu ternak yang dibuat dari hasil fermentasi empon-empon dengan menggunakan mikroorganisme efektif sebagai fermentor berfungsi sebagai minuman kesehatan, menambah nafsu makan, meningkatkan aktivitas ternak, dan menambah energi. Tanaman empon-empon seperti jahe, kunyit, asem, temulawak, temu ireng, lengkuas, laos, dll banyak dibudidayakan masyarakat di pekarangan dan kebun campuran sebagai tanaman sela di bawah naungan tanaman tahunan, sehingga bahan baku untuk pembuatan jamu ternak ini tersedia secara lokal dan mudah didapat.

Beberapa manfaat pemberian jamu dari bahan empon-empon ke ternak antara lain: (1). melancarkan metabolisme dalam tubuh ternak, (2). mengurangi stress, (3). menambah nafsu makan & menekan penyakit cacing, (4). menyeimbangkan jumlah mikroorganisme di dalam alat pencernaan ternak, (5). mengurangi polusi bau pada ternak dan kotoran ternak, (6). meningkatkan produksi dan mempercepat adaptasi ternak terhadap pakan, dll. Saat ini, para peternak mulai memanfaatkan jamu ternak untuk memelihara kesehatan ternaknya. Pemberian jamu ternak ini tidak terbatas hanya pada ternak ruminansia saja, tetapi juga pada ternak unggas maupun hewan peliharaan (burung, anjing, kucing, dll). Setelah terjadi wabah flu burung yang menyerang unggas (ayam potong, ayam petelur, itik), animo para peternak untuk memberikan jamu dari empon-empon semakin meningkat, terutama dalam rangka menjaga kebugaran & kesehatan ternaknya.

Bahan-Bahan

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat jamu ternak terdiri dari campuran empon-empon, air hangat, tetes/molases atau air gula, dan mikroba aktifator. Bahan empon-empon seperti kunyit, temu ireng, temu lawak, jahe, kunir putih, dll dihaluskan dengan cara ditumbuk atau digiling. Air yang digunakan sebaiknya direbus lalu didinginkan. Tetes/molases hasil samping proses pabrik gula digunakan sebagai bahan starter untuk mikroba aktifator dan sekaligus bahan pengharum/aroma untuk meningkatkan palatabilitas atau kesukaan ternak terhadap jamu. Bila tidak tersedia tetes/molases dapat diganti dengan air gula merah. Mikroba aktifator yang digunakan bisa menggunakan produk yang sudah beredar di pasaran seperti larutan EM-4, Cattlegro, dll. Komposisi bahan-bahan:

- Campuran empon-empon yang dihaluskan = 10 kg

- Air yang sudah direbus = 70 liter

- Tetes/molases atau air gula merah = 5 liter

- Larutan mikroba aktifator = 1 liter

- Garam Dapur = 0.01 kg

Komposisi Bahan dan Biaya Bahan Pembuatan Jamu Ternak Untuk Memproduksi Sebanyak 80 Liter

NO.

BAHAN

JUMLAH

HARGA SATUAN

BIAYA (Rp)

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

Bahan bakar minyak /kayu bakar untuk merebus air

Tetes/Molases

Larutan EM-4 atau Cattlegro

Kencur

Kunyit

Lengkuas

Jahe

Bawang Merah

Bawang Putih

Daun Sirih

Temu Ireng

Temu Lawak

Garam Dapur

1 liter

5 liter

1 liter

1 kg

1 kg

1 kg

1 kg

0.5 kg

0.5 kg

0.5 kg

0.5 kg

0.5 kg

0.01 kg

5000

1500

15.000

5000

2500

4000

10000

15000

28000

5000

6000

7000

5000

5000,-

7.500,-

15.000,-

2.500,-

2.500,-

4.000,-

10.000,-

7.500,-

14.000,-

5.000,-

3.000,-

3.500,-

500,-

Jumlah:

80.000,-

Produksi Jamu :

80 liter

Biaya Produksi per-liter :

Rp. 1000,-

Bahan empon-empon dicuci &

dihaluskan untuk pembuatan jamu ternak

Alat-Alat

Alat yang diperlukan dalam proses pembuatan jamu ternak terdiri dari drum plastik dengan kapasitas 100 liter yang ada penutupnya, lakban, dan pengaduk.

Proses Pembuatan

Larutan jamu yang sudah jadi siap untuk diberikan ke ternak atau selanjutnya dikemas dalam jurigen plastik kapasitas 5 liter dan ditutup rapat

Diberikan ke ternak atau disimpan

Hari ke-1 sampai 4, tutup dibuka setiap pagi untuk mengeluarkan gas yang terbentuk, kemudian ditutup kembali. Selanjutnya dibiarkan selama ± 3 minggu dan tutup dibuka untuk mengecek apakah proses fermentasi sudah selesai yang ditandai dengan adanya lapisan putih seperti bedak yang terapung di bagian atas dan aroma larutan harum seperti berem Bali

Bahan-bahan dimasukkan ke dalam drum plastik yang berisi air hangat 80 liter, diaduk

merata, lalu ditutup rapat dan penutupnya di lakban untuk menjaga kondisi anaerob. Volume larutan mengisi 2/3 drum sehingga masih ada 1/3 bagian drum yang kosong untuk gas-gas hasil fermentasi bahan.

Jamu ternak setelah dikemas dalam ukuran 1 liter dan 5 liter siap

dipasarkan ke para peternak

Petunjuk Pemakaian

Jenis Ternak

Dosis dan Aplikasi Jamu Ternak

Sapi, kerbau, kuda

  • Pada saat kondisi ternak menurun, stress, kurang nafsu makan dan lesu, jamu ternak diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak ± 250 cc/ekor melalui mulut (oral) sampai ternak pulih kondisinya. Pada kondisi normal, jamu ternak cukup diberikan 3 kali seminggu sebanyak 250 cc/ekor setiap kali pemberian. Pemberian jamu melalui mulut (oral), dicampur ke air minum atau pakan.

Domba, kambing, babi

  • Pada saat kondisi ternak menurun, stress, kurang nafsu makan dan lesu, jamu ternak diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak ± 100 cc/ekor melalui mulut (oral) sampai ternak pulih kondisinya. Pada kondisi normal, jamu ternak cukup diberikan 3 kali seminggu sebanyak 50 cc/ekor setiap kali pemberian. Pemberian jamu melalui mulut (oral), dicampur ke air minum atau pakan.

Ayam, itik, puyuh

  • Pada saat kondisi ternak menurun, stress, kurang nafsu makan dan lesu, jamu ternak diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak ± 10 cc/ekor melalui mulut (oral) sampai ternak pulih kondisinya. Pada kondisi normal, jamu ternak cukup diberikan 3 kali seminggu sebanyak 10 cc/ekor setiap kali pemberian. Pemberian jamu melalui mulut (oral), dicampur ke air minum atau pakan.

Hewan Peliharaan

Anjing & Kucing:

  • Pada saat kondisi hewan peliharaan menurun, stress, kurang nafsu makan dan lesu, jamu ternak diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak ± 25 cc/ekor melalui mulut (oral) sampai pulih kondisinya. Pada kondisi normal, jamu ternak cukup diberikan 3 kali seminggu sebanyak 15 cc/ekor setiap kali pemberian. Pemberian jamu melalui mulut (oral), dicampur ke air minum atau pakan.

Burung (Merpati, Perkutut, Ocehan):

Pemberian jamu secara rutin setiap hari sebanyak 5 cc/ekor dicampur air minum.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006. Kompos dari Sampah, Program Penerapan Iptek di Daerah (Iptekda),padaweb:www.brdp.or.id/kegiatan/artikel/kompossampah.html.

Chuzaemi. S. 2002. Arah dan Sasaran Penelitian Nutrisi Sapi Potong di Indonesia. Makalah dalam Workshop Sapi Potong, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan dan Loka Penelitian Sapi Potong, Grati. Malang 11-12 April 2002.

Chuzaemi, S. Potensi Jerami Padi Sebagai Pakan Ternak Ditinjau dari Kinetika Degradasi dan Retensi Jerami di Dalam Rumen, 1994. Disertasi. Universitas Gadja Mada.

De Jong, R, and J. Van Burhem, 1993. Utilization of Crop Residues and Suplementary Feeds in Tropical Developing Countries. Final report of Research, Commision of the European Comunities, Waginengen, The Netherlands.\

Doyle, P.t., C. Devandra and G.R. Pearce, 1986. Rice Straw as afeed for ruminant. International Development Program of Australian Universities and Colleges, Limited (IDP), Canbera, Australia.feng Yanglian, Li Shengli, Zhao Guangyong, Wu Jinlong and Goodchild, A.V. 2001. Research on Forage Quality and Techniques for Quality Improvement. Research Program No. 5 Workshop on Forage Quality and Techniques for Quality Improvement. Juni 2001. China Agricultural University.

Felizardo, E. I. 1990. The utilization of animal and agriculture wastes for the simultaneous production of fuel-gas and feed for heat and power. International conference on biogas. Technologies and Implementation Strategies. Borda and Undrap.

Hardianto R. 2004. Pengembangan Sistem Integrasi Terpadu Tebu-Ternak-Industri Pakan Melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan di PG.Jatitujuh Cirebon. Makalah dalam Seminar Nasional Inovasi Teknologi dan Kelembagaan Agribisnis. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, Malang.

Hardianto. R dan Suharyono. 2002. Kajian Pemanfaatan Limbah Pertanian dan Limbah Agroindustri Sebagai Bahan Baku Pakan Ternak di Kabupaten Tulungagung. Laporan Hasil Studi Kerjasama BPTP Jawa Timur dengan Bappeda Kabupaten Tulungagung.

Harahap, F.M, Apandi dan S.Ginting. 1980. Gas Bio Untuk Rumah Anda. Pusat Teknologi Pembangunan ITB-Bandung.

Junus, M. 1990. An introduction to biogas from manure as energy diversification for East Java farmers. International Conference on Biogas. Technologies and Implementation Strategies. Borda and Undarp.

Komar, A., 1984. Teknologi Pengolahan Jerami Sebagai Makanan Ternak. Yayasan Dian Grahita, Bandung.

Nusajaya Agrotech Industries, 2001. Teknologi Avesgro dan Cattlegro. Materi Pelatihan Teknologi Berwawasan Lingkungan. PT.Tradex Jakarta.

Wahyono, Sri; Sahwan L. Firman; dan Schuchardt Frank, 2003. Pembuatan Kompos: Dari Limbah Rumah Pemotongan Hewan, Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan, BPPT, Jakarta.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: